Jumat, 06 Mei 2011

Mengomentari dan Menanggapi Kutipan Novel Remaja Terjemahan

Raka Ivan P
19
VIIIA

Mengomentari dan Menanggapi Kutipan
Novel Remaja Terjemahan
Membaca novel terjemahan biasanya lebih sulit dibandingkan membaca novel Indonesia. Hal ini disebabkan latar belakang budaya yang berbeda. Penulis novel remaja terjemahan harus benar-benar memahami bahasa dan latar belakang budayanya agar memahami maksud penulis aslinya. Contoh kutipan novel :
Buku Harian yang Sangat Rahasia

Hermione tinggal di rumah sakit selama beberapa minggu.Ketika anak-anak kembali dari liburan Natal, desas-desus tentang ketidakmunculannya seru sekali, karena tentu saja semua mengira dia telah diserang. Begitu banyak anak yang datang ke rumah sakit, berusaha mengintipnya, sehingga Madam Pomfey mengeluarkan tirainya lagi dan memasangnya di sekeliling tempat tidur Hermione, agar dia tidak malu sebab dilihat anakanak dengan wajah berbulu. Harry dan Ron datang menengoknya setipa malam. Ketika semester baru dimulai, mereka membawakannya PR setiap hari. “Kalau aku yang ditumbuhi kumis kucing, aku sih libur dulu belajarnya, “ kata Ron sambil meletakkan setumpuk buku
di meja di sebelah tempat tidur Hermione pada suatu malam. “Jangan bodoh, Ron, aku kan harus belajar supaya tidak ketinggalan,” kata Hermione tegas. Semangatnya sudah jauh lebih baik karena semua bulu sudah menghilang dari wajahnya, dan matanya pelan-pelan sudah mulai kembali berwarna cokelat. “Kurasa kalian sudah mendapat petunjuk baru?” dia menambahkan dengan berbisik, supaya Madam Pomfrey tidak mendengarkannya.
“Belum,” kata Harry muram.
“Aku begitu yakin Malfoy-lah orangnya,” kata Ron, untuk
kira-kira seratus kalinya.
“Apa itu?” tanya Harry, menunjuk badan keemasan yang
mencuat dari bawah bantal Hermione.
“Cuma kartu ucapan semoga cepat sembuh,” kata Hermione
buru-buru, berusaha menjejalkannya supaya tidak kelihatan. Tetapi Ron lebih cepat darinya. Ron menariknya, membuka, danmembacanya keras-keras. “Untuk Miss Granger, semoga lekas sembuh, dari gurumu yang cemas, Profesor Gilderoy Lackhart, Order of Merlin Kelas Ketiga, Anggota Kehormatan Liga Pertahanan tehadap Ilmu Hitam, dan lima kali memenangkan kontes Senyum Paling
Menawan Witch Weekly.” Ron mendongak, menatap Hermione jijik. “Kau tidur dengan kartu ini di bawah bantalmu?” Tetapi Hermione tak perl menjawab, diselamatkan oleh kedatanagn Madam Pomfrey yang membawakan obatnya untuk malam itu. “Si Lackhart ini cowok penjilat yang paling memuja diri sendiri atau bagaimana sih?” kata Ron kepada Harry ketika mereka meninggalkan kamar Hermione dan menaiki tangga menuju Menara Gryffindor. Saking banyaknya PR yang diberikan oleh Snape, sampai-sampai Harry berpikir baru akan bisa menyelesaikannya kalau dia sudah kelas enam. Ron baru saja berkata dia menyesal tidak bertanya kepada Hemione berapa buntut tikus yang harus ditambahkan ke dalam ramuan Pendiri Bulu Kuduk, ketika terdengar teriakan marah dari lantai
di atas mereka. “Si Filch,” gumam Harry, ketika mereka bergegas menaiki tangga dan berhenti, menyembunyikan diri, memasang telinga tajam-tajam. “Apakah ada anak lain yang baru diserang?” kata Ron tegang. Mereka berdiam diri , kepala mereka condong ke arah suara Filch, yang kedengarannya histeris. “ ... lebih banyak lagi pekerjaan untukku! Mengepel sepanjang malam, seperti aku tak punya cukup pekerjaan saja! Tidak, ini sudah kelewatan, aku akan ke Dumbledore ...”
Langkah-langkah Filch menjauh dan mereka mendengar pintu ditutup keras-keras di kejauhan.
Mereka menjulurkan kepala. Filch jelas baru saja berpatroli di tempat ia biasa berjaga. Mereka sekali lagi berada di tempat Mrs Norris diserang. Dengan tatapan sekilas mereka sudah melihat apa yang membuat Filch berteriak-teriak. Genangan air membasahi sampai setengah koridor, dan kelihatannya air masih merembes dari bawah pintu toilet Myrtle Merana. Sekarang setelah Filch berhenti berteriak-teriak, mereka bisa mendengar tangisan Myrtle bergaung dari dinding-dinding toilet.
“Kenapa lagi tuh dia?” tanya Ron. “Ayo, kita lihat,” kata Harry, dan seraya mengangkat jubah
sampai ke atas mata kaki, mereka menginjak genangan air menuju pintu yang bertulisan “rusak”, mengabaikannya seperti biasa, dan masuk. Myrtle Merana sedang menangis kalau ia mungkin lebih
keras dan lebih seru daripada biasanya. Kelihatannya dia bersembunyi di dalam klosetnya yang biasa. Toilet itu gelap karena lilin-lilinnya padam terkena siraman air yang telah
membuat dinding dan lantai basah kuyup “Ada apa, Myrtle?” tanya Harry.
“Siapa itu?” deguk Myrtle sedih. “Mau melempar benda lain lagi padaku?”
Harry berjalan melintasi air ke biliknya dan berkata, “Kenapa aku mau melempar sesuatu padamu?”
“Jangan tanya aku,” teriak Myrtle, muncul dengan luapan air yang tercurah ke lantai yang sudah kuyup. “Aku di sini terus, tak pernah mengganggu orang lain, dan ada orang yang
menganggap lucu melemparku dengan buku ...” “Tapi kau kan tidak sakit kalau ada yang melemparmu dengan sesuatu,” kata Harry tenang. “Maksudku, benda itu akan langsung menembusmu, kan?” Dia telah mengucapkan hal yang salah. Myrtle melayang dan menjerit, “Biar saja semua melempar buku kepada Myrtle, karena dia tidak bisa merasa! Sepuluh angka kalau kau bisa melemparnya menembus perutnya! Lima puluh kalau bisa menembus kepalanya! Nah, ha ha ha! Permainan yang bagus sekali, menurutku tidak!” “Siapa sih yang melemparnya kepadamu?” tanya Harry. “Aku tak tahu ... aku sedang duduk-duduk di leher angsa, memikirkan kematian, dan buku itu jatuh begitu saja di atas kepalaku,” kata Myrtle, menatap mereka dengan marah. “Itu tuh bukunya, di sana, hanyut.” Harry dan Ron mencari di bawah wastafel, ke arah yang ditunjuk Myrtle. Sebuah buku kecil dan tipis tergeletak. Sampulnya hitam kumal dan basah kuyup sepeti halnya segala
sesuatu di dalam toilet itu. Harry maju untuk memungutnya,
tetapi Ron mendadak menjulurkan tangan mencegahnya. “Apa?” kata Harry.
“Kau gila?” kata Ron. “Bisa berbahaya.” “Berbahaya?” kata Harry, tertawa. “Mana mungkin sih?”
“Kau akan heran,” kata Ron, yang memandang buku itu dengan takut-takut. “Beberapa buku yang disita Kementerian - Dad cerita padaku - ada yang bisa membuat matamu terbakar. Dan siapa yang membaca Soneta Penyihir, seumur hidup akan berbicara dengan gaya pantun jenaka. Dan ada penyihir tua wanita di Bath yang punya buku yang tak bisa berhenti dibaca! Terpaksa kau akan ke mana-mana dengan buku itu di bawah hidungmu, mencoba melakukan segala hal dengan satu tangan.
Dan ...” “Baiklah, aku paham,” kata Harry. Buku kecl itu tergeletak di lantai, tak jelas buku apa, dan
basah kuyup. “Yah, kita tidak akan tahu kalau kita tidak memeriksanya,” kata Harry, sambil berlari mengitari Ron dan memungut buku itu. Harry langsung melihat bahwa itu buku harian, dan tahun yang sudah memudar di sampulnya memberitahunya bahwa usianya sudah lima puluh tahun. Harry membukanya dengan bergairah. Di halaman petama dia cuma bisa membaca nama “T.M. Riddle” yang tintanya sudah luntur. “Tunggu,” kata Ron, yang sudah mendekat dengan hati-hati
dan melihat melewati bahu Harry. “Aku tahu nama itu ... T. M. Riddle mendapat penghargaan
untuk pengabdian istimewa kepada sekolah lima puluh tahun yang lalu.”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Harry keheranan. “Karena Filch menyuruhku menggosok trofinya kira-kira lima puluh kali waktu detensi itu,” kata Ron sebal. “Trofi it yang kena muntahan siputku. Kalau kau menggosok lendir dari nama tertentu selama satu jam, kau akan mengingat nama itu juga.”
Harry hati-hati membuka halaman-halamannya yang basah. Semuanya kosong. Tak ada bekas tulisan sesamar apa pun di halaman mana pun, bahkan “ulang tahun Bibi Mabel” atau “dokter gigi, setengah empat’, misalnya, juga tidak. “Dia tidak pernah menulis di sini,” kata Harry kecewa. “Kenapa ya ada orang yang ingin melenyapkannya dengan membuangnya ke dalam toilet?” tanya Ron ingin tahu.
Harry membalik buku itu untuk memerika sampul belakangnya dan melihat nama sebuah agen surat kabar di Vauxhall Road, London, tercetak di situ. “Pastilah dia kelahiran-Munggle,” kata Harry, berpikir “karena dia membeli buku harian di Vauxhall Road ...” “Yah, tak banyak gunanya untukmu,” kata Ron. Dia merendahkan suaranya, “Lima puluh angka kalau kau bisa melemparkannya menembus hidung Myrtle.” Tetapi Harry mengantongi buku harian itu.
Sumber: Harry Potter and The Chamber of Secrets

Maryati , 2008. Bahasa dan sastra Indonesia 2: untuk SMP/MTs kelas
VIII/ Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional.

Sekarang jika kamu diminta untuk memberikan komentar terhadap sesuatu, misalnya novel, apa yang seharusnya kamu lakukan? Tentulah kamu harus membaca lebih dahulu novel tersebut; bahkan mungkin tidak cukup sekali membacanya. Dalam membaca novel kita dapat menemukan unsur-unsur yang membangunnya secara internal, yang dikenal sebagai unsur intrinsik, seperti tema, alur, penokohan, latar, serta amanat. Di samping itu, kita dapat menemukan keunikan novel tersebut bila dibandingkan dengan novel lainnya, baik yang tersirat di dalamnya maupun yang tersurat dalam narasi. Aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi mengomentari kutipan novel yang dibaca adalah (1) mengenali pemaparan isi novel dan (2) menulis komentar terhadap novel.

1. Mengenali Pemaparan Isi Novel
Apa perbedaan buku ilmiah, ilmiah populer, dan novel? Kesemua buku tersebut
memiliki ciri yang berbeda, yakni bukan hanya pada penampilan sampul dan judulnya
namun lebih pada teknik pemaparannya. Demikian juga antara Harry Potter, Lima
Sekawan, atau novel remaja Philo Phobia, Aprodaed, dan Luv Me pastilah memiliki
perbedaan dalam model pemaparannya

2. Menulis Komentar terhadap Novel
Dalam pembelajaran kali ini sebaiknya ada seorang temanmu yang membacakan
sebagian (fragmen) dari sebuah novel remaja. Sementara itu, kamu dan yang lainnya
memperhatikan. Setelah mendengarkan dengan cermat, buatlah komentar terhadap
novel yang baru saja kamu dengarkan.
Dalam memberikan komentar kamu boleh memberikan tanggapan terhadap alur,
tokoh, latar, dan pesan cerita. Kamu juga dapat mengomentari teknik pemaparan atau
apa saja yang paling menggelitik.

Laksono Kisyani 2008. Bahasa Indonesia: Sekolah Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4/ Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.


Kamu pernah membaca novel bukan? Tentu saja pernah. Kalau belum
pernah, pergilah ke perpustakaan sekolahmu. Carilah novel remaja kemudian
bacalah. Novel remaja merupakan salah satu bentuk novel yang isinya berkisah
seputar remaja dengan segala permasalahannya. Novel remaja banyak
digandrungi pembaca seusiamu. Novel remaja banyak ditulis oleh pengarang
atau sastrawan-sastrawan kita. Namun, tidak sedikit juga novel remaja yang
merupakan terjemahan dari sastrawan atau pengarang asing yang disebut novel
terjemahan. Dengan membaca novel yang sesuai dengan duniamu, kamu akan
memperoleh kesenangan, hiburan, sekaligus wawasan yang luas untuk
menambah pengetahuanmu.
Pada kegiatan pembelajaran berikut ini, kamu dituntut untuk membaca
kutipan novel remaja bahkan kalau memungkinkan membaca novelnya sampai
selesai kemudian memberikan komentar terhadap kutipan novel itu. Komentar
dapat disampaikan dengan cara menceritakan isinya atau mengemukakan
hal-hal menarik yang terdapat di dalamnya.

Suwandi Sarwiji, 2008. Bahasa Indonesia 2: bahasa kebanggaanku untuk SMP/MTs
kelas VIII Jakarta:Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional


Novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam pembentukannya. Unsurintrinsik merupakan unsur pembentuk karya sastra yang berasal
dari dalam karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik novel meliputi tema, amanat atau pesan, alur atau plot, latar atau setting, penokohan, sudut pandang, dan style atau gaya bahasa. Unsur ekstrinsik karya sastra merupakan unsur pembentuk karya sastra yang berasal dari luar karya sastra. Unsur ekstrinsik novel, di antaranya latar belakang pendidikan pengarang, kondisi sosial masyarakat, adat daerah tertentu, dan sebagainya. Pengertian dari mengomentari adalah memberikan komentar atau tanggapan. Mengomentari kutipan novel berarti memberikan tanggapan terhadap kutipan novel yang disajikan. Dalam hal ini, sebagaimana kalian ketahui bahwa hal-hal yang dapat ditanggapi dari sebuah novel meliputi kisahan yang menjadi isi dari novel tersebut. Isi kisahan tersebut tersusun dari adanya unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang membangunnya. Unsur-unsur tersebut menjadi sangat penting dalam upaya memberikan komentar terhadap sebuah novel, karena dalam hal ini kemenarikan dari
sebuah novel juga dapat diuraikan berdasarkan unsur-unsur tersebut.Hal-hal yang menarik dari sebuah novel dapat diuraikanberdasarkan atau atas pandangan terhadap kedua unsur tersebut. Untuk mengawali proses apresiasi, simaklah pembacaan kutipan novel remaja terjemahan berikut!

Di Sanalah Kenangan Terowongan Biru
Karya: Oh Soo Yeon

Untuk selamanya Joon Suh tak akan melupakan Laut Hwa Jin Po ini. Ketika di Amerika, tempat yang dirindukannya adalah Laut Hwa Jin Po. Dulu, ini adalah tempat Eun Suh menumpahkan air mata dan tempat mengucapkan perpisahan. Eun Suh mengatakan, bila ada kehidupan yang akan datang maka dia ingin berubah menjadi sebuah laut.... Pada saat itu Eun Suh bertanya begini kepada Joon Suh, “Kak, bila ada kehidupan yang akan datang, kamu ingin menjadi apa?” Eun Suh melanjutkan berbicara, “Jika aku, aku ingin berubah menjadi laut. Namun, aku tidak mau menjadi laut yang di tempat lain, ingin menjadi Laut Hwa Jin Po ini saja...”“Laut?”“Ng, laut! Asalkan melihat laut, hatiku berubah menjadi tenang, dan alasanku sebenarnya ingin berubah menjadi laut adalah ...” Eun Suh berhenti berkata, menatap Joon Suh. “Laut, bukankah selalu ada di sini? Tidak akan berubah menjadi padang pasir di pagi hari, juga tidak akan tidak menyisakan setetes air lalu pergi menghilang. Jika benar ada kehidupan yang akan datang, aku berharap dapat sama seperti laut ini, senantiasa di tempat yang sama, tidak ingin berpisah dengan siapa pun ...” “Kak, jika ingin bertemu denganku, datang saja ke tepi laut yang berwarna perak ini. Pada saat kamu datang, aku akan ada. Kita akan dapat saling bertemu ....”
(Sumber: Cinta Tanpa Akhir, 2002)

Yudha Wirajaya Asep .2008.,Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2 : Untuk SMP/MTs Kelas VIII., Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional

Di dalam sebuah karya novel, tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Tentu kamu akan menemukan hal-hal menarik, unik, sesuatu yang kamu sukai, dan bahkan sesuatu yang tidak kamu sukai. Kamu dapat mengomentari kekurangan dan kelebihan tersebut, atau bahkan mengomentari isi novel. Agar bisa berkomentar dengan baik, kamu terlebih dahulu harus dapat mengapresiasi dengan baik pula. Agar apresiasi dan komentarmu objektif dan kreatif, kamu bisa menelaah novel yang telah
kamu baca bersama teman-temanmu dalam diskusi.
Perhatikan kutipan novel terjemahan berikut!

Judul Novel : Sang Alkemis
Karya : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2006
Halaman 9–10

“Aku hendak menjual wol,” kata si anak lelaki kepada saudagar itu. Toko itu sedang ramai, maka si saudagar menyuruh anak gembala itu menunggu sampai sore. Anak itu pun duduk di undak-undak toko, dan mengeluarkan buku dari tasnya.
“Ternyata anak gembala bisa juga membaca,” terdengar suara seorang
gadis di belakangnya. Wajah gadis itu khas daerah Andalusia, rambutnya hitam bergelombang dan sepasang matanya samar-samar mengingatkan akan bangsa Moor penakluk. “Yah, biasanya aku lebih banyak belajar dari domba-dombaku daripada
buku-buku,” sahut si anak. Selama dua jam berbincang-bincang, gadis itu menceritakan bahwa dia putri sang saudagar! Dia juga menceritakan kehidupan di desa yang dari hari ke harinya selalu sama. Si anak gembala menceritakan pedesaan Andalusia serta berbagai berita dari kota-kota yang pernah disinggahinya. Senang rasanya kali ini teman bicaranya bukanlah domba-dombanya.
“Bagaimana kau belajar membaca?” tanya gadis itu di tengah obrolan
mereka.
“Seperti orang-orang pada umumnya,” sahut si anak gembala. “Di sekolah.”
“Kalau kau bisa membaca, mengapa kau cuma menjadi gembala?” Si anak lelaki bergumam-gumam tak jelas untuk menghindari menjawab pertanyaan gadis itu. Dia yakin si gadis tidak bakal mengerti. Maka dia meneruskan bercerita tentang pengalaman-pengalamannya, dan sepasang mata gadis itu terbelalak heran bercampur takut. Waktu berlalu dan si anak lelaki berharap hari itu tidak bakal berakhir. Dia berharap ayah gadis itu terus sibuk sehingga dia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya: hasrat untuk menetap di satu tempat selama-lamanya. Bersama gadis berambut hitam kelam ini hari-harinya tak kan pernah sama lagi. Namun, akhirnya saudagar itu muncul dan meminta si anak mencukur empat dombanya. Kemudian, dia membayar harga wol itu dan meminta si
anak gembala datang kembali tahun depan.

Hariningsih Dwi.2008. Membuka jendela ilmu pengetahuan dengan bahasa dan sastra
Indonesia 2: SMP/MTs Kelas VIII, Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

Novel merupakan hasil imajinasi atau khayal penulisnya. Saat membaca novel, kamu
diajak masuk ke dalam kisah yang diciptakan sang penulis. Adakalanya peristiwa-peristiwa
itu terjadi dalam kehidupan nyata. Novel memiliki dunianya sendiri, suatu dunia kehidupan yang tidak harus sama dengan kenyataan hidup sehari-hari. Kamu dipersilakan untuk menikmati setiap kisah, mengambil hikmah, hingga memberikan suatu apresiasi dalam bentuk kritik atau komentar
Berikut komentar mengenai salah satu novel anak!

Buah Manis Ketekunan
Banyak jalan menuju ke Roma. Pepatah lama ini sangat besar maknanya,bahwa untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita bisa ditempuh melalui berbagaiusaha. Apa pun usaha bisa kita lakukan, asalkan tetap di jalan yang benar, demiterwujudnya cita-cita. Perjuangan seperti itulah yang dilakukan Toha, seorang murid sebuah sekolah dasar yang ingin tetap bersekolah walaupun kehidupan keluarganya serba kekurangan. Ayah Toha sudah meninggal. Toha hidup bersama ibunya dan seorang adik yang
masih kecil. Kemiskinan tidak membuat Toha putus asa. Ia bertekad tetap melanjutkan pendidikan walaupun dirinya harus bekerja keras menjadi loper koran cilik. Sang ibu mengizinkannya asal pekerjaannya itu tidak mengganggu belajarnya. Setiap pagi buta, usai menjalankan salat Subuh, Toha menjalankan tugasnya mengantar koran ke rumah para pelanggan. Setelah tugasnya selesai, ia pun berangkat ke sekolah. Pekerjaannya itu dilakukan dengan hati riang dan tulus. Wah, sampai kapankah Toha bertahan dengan pekerjaannya itu? Lalu, berhasilkah ia menggapai cita-citanya? Bersambung
Sumber: Suara Merdeka, 16 Desember 2008

Kramadibrata Dewaki.2008. Terampil berbahasa Indonesia: untuk SMP/MTs kelas VIII,
Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

Dalam pembelajaran sastra kamu akan belajar mengomentari kutipan novel remaja. Mengomentari novel remaja Indonesia bertolak dari pokok-pokok persoalan cerita, karakter tokoh-tokohnya, pesan-pesan di dalamnya. Mengomentari berarti memberikan kritik dan saran.


Setyorini Yulianti 2008. Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas VIII/ Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.











Soal

1). Ada 2 Aktivitas pembelajaran yang harus dilakukan untuk menguasai kompetensi mengomentari kutipan. Sebutkan dan jelaskan!

2). Berilah tanggapan pada kutipan novel remaja terjemahan Harry Potter and Thr Chamber of Secrets

3) Tentukan tema dari kutipan novel Di Sanalah Kenangan Terowongan Biru

4) Siapa saja tokoh dalam kutipan novel ‘’Sang Alkemis’’?

5) Dan Apa komentarmu tentang isi kutipan novel tersebut?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar